Showing posts with label KIMIA. Show all posts
Showing posts with label KIMIA. Show all posts

Tuesday, July 3, 2018

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA : “MENENTUKAN HARGA ∆H”

         A.    JUDUL PRAKTIKUM
               Menentukan harga ∆H.

        B.     TUJUAN PRAKTIKUM
               Menentukan ∆H reaksi larutan NaOH dengan larutan HCI.

        C.    DASAR TEORI
Kalor reaksi dapat ditentukan melalui percobaan dengan alat kalorimeter. Kalorimeter adalah suatu sistem terisolasi yang memungkinkan tidak adanya pertukaran materi dan pertukaran energi dengan lingkungan di luar kalorimeter. Artinya semua kalor yang dibebaskan selama reaksi di dalam kalorimeter tidak ada yang terbuang ke luar kalorimeter. Dengan mengukur kenaikan temperatur di dalam kalorimeter dengan thermometer jumlah kalor yang diserap oleh air dan perangkat kalorimeter dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
            Proses pengukuran kalor reaksi disebut kalorimetri. Data ∆H reaksi yag terdapat pada tabel umumnya ditentukan secara kalorimetris. Oleh karena tidak ada kalor yang terbuang ke lingkungan, kalor reaksi sama dengan kalor yang diserap oleh larutan dan kalorimeter dengan tanda yang berbeda.
Untuk kalorimeter sederhana yang menggunakan bahan non konduktor, jumlah kalor yang diserap atau jumlah kalor yang dilepaskan ke lingkungan dapat diabaikan sehingga
   E.     CARA KERJA
  1) Masukkan 20 ml larutan NaOH 0,1 M ke dalam gelas ukur A dan 20 ml larutan HCl 0,1 M ke dalam gelas ukur B.
   2) Ukur masing-masing larutan. Thermometer harus dibersihkan dahulu sebelum dipindahkan ke larutan yang lain. Tentukan suhu rata-rata dari kedua larutan sebagai suhu awal.
  3) Tuangkan HCl ke dalam gelas steroform  yang berisi larutan NaOH, kemudian aduk. Perhatikan suhu pada thermometer saat suhu akan naik, kemudian tetap, kemudian turun lagi. Catat suhu yang tetap sebagai suhu akhir reaksi.


































    
          G.    KESIMPULAN
                 Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa,
1.   ∆H yang diperoleh melalui percobaan tersebut adalah sebesar
                Tanda negatif menandakan bahwa reaksi tersebut melepas kalor.
2.    Reaksi antara NaOH dengan HCl menunjukkan adanya peningkatan suhu. Sehingga reaksi tersebut melepaskan kalor (eksoterm).




                                                                                                     ~ SMA NEGERI 1 BLITAR








LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA : “TITRASI ASAM BASA”

A.    JUDUL KEGIATAN
Menentukan konsentrasi HCl.

B.     JENIS KEGIATAN
Percobaan kelompok.

C.    TUJUAN KEGIATAN
1)      Melakukan titrasi Asam Basa.
2)      Menentukan konsentrasi HCl dengan titrasi menggunakan NAOH sebagai titrasi.

D.    DASAR TEORI
Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat didalam larutan. Titrasi dilakukan dengan mereaksikan larutan tersebut dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya (Brady, 1988: 178). Dalam titrasi, suatu larutan yang harus dinetralkan dimasukkan ke dalam wadah atau tabung. Larutan lain yaitu basa, dimasukkan ke dalam buret lalu dimasukkan ke dalam asam, mula-mula cepat, kemudian tetes demi tetes, sampai titik setara dari titrasi tersebut tercapai. Titik pada saat titrasi dimana indikator berubah warna dinamakan titik akhir (end point) dari indikator. Yang diperlukan adalah memadankan titik akhir indikator yang perubahannya terjadi dalam selang pH yang meliputi pH sesuai dengan titik setara (Ralph H, 2008: 308-310).
Zat yang akan ditentukan kadarnya sendiri disebut dengan titrasi (titran) dan biasanya diletakan di dalam tabung elenmeyer sedangkan zat yang telah diketahui sendiri konsentrasinya disebut sebagai (titer) dan biasanya diletakkan didalam buret baik titer ataupun titran biasanya didalam bentuk larutan (Keenan, 1982: 162). Perubahan besar dari pH yang terjadi dalam titrasi agar dapat menentukan kapan titik ekivalennya akan tercapai. Ada banyak asam dan basa organik dan basa organik lemah yang bentuk-bentuk tak berdisosiasi dan ionnya menunjukan warna yang berbeda warna. Molekul-molekul demikian dapat digunakan untuk menentukan kapan cukup titran telah ditambahkan dan disebut indikator visual.
Indikator terkenal phenoftalein merupakan asam diprotik dan tak berwarna. Ia mula-mula berdisosiasi menjadi suatu bentuk tak berwarna dan kemudian, dengan kehilangan hidrogen ke dua, menjadi ion dengan system terkonjugasikan, maka dihasilakanlah warna merah. Phenoftalein berubah warna pada kira-kira titik ekivalen dan merupakan indicator yang cocok. Volume basa yang lebih besar akan diperlukan untuk merubah warna suatu indikator dan titik ekivalen tidak akan di deteksi dengan ketepatan yang biasa diharapkan (Day, 2002: 141-145).
Titik ekivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada. Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir yaang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi (Anonimous,  2013).
Sumber ion H- adalah Larutan NaOH encer dan ion Hadalah larutan asam,mula-mula disiapkan NaOH 0,1 M kemudian distandarisasikan dengan larutan asam yang lain yang telah diketahui konsentrasinya, larutan NaOH tidak tersedia dalam keadaan murni dan larutannya dapat berubah konsentrasinya. NaOH Haruslah distandarisasikan sebelum digunakan untuk mentitrasi sampel.Pada sumber ion H adalah larutan NaOH kebanyakan pada titrasi asam basa.Perubahan larutan pada titik equivalen tidak jelas. Oleh karena itu untuk menentukan titik akhir titrasi digunakan indikator karena zat ini memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu secara ideal.titik titrasi seharusnya seharusnya sama dengan titik titrasi seharusnya sama dengan titik akhir titrasi (titik ekuivalen). Asam dan basa terurai sempurna dalam larutan berat oleh karena itu,pH pada sebagian titik selama titrasi air dapat dihitung langsung dari jumlah stoikiometri asam dan basa yang dibiarkan bereaksi (Sudarto, 2008: 101).
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama dengan mol-ekuivalen basa, maka hal ini dapat ditulis sebagai berikut (Esdi, 2011) mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa. Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara normalitas (N) dengan volume, maka rumus diatas dapat ditulis sebagai berikut:
N asam x V asam = N asam x V basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH- (pada basa).











  F.    LANGKAH KEGIATAN
1)      Siapkan Larutan NAOH dan Larutan HCI yang sudah ditetesi indikator penolphetalein/pp.
2)      Masukkan larutan tersebut ke dalam buret menggunakan corong.
3)      Goyangkan gelas ukur yang berisi HCI dibawah buret yang berisi larutan, lakukan sampai larutan berubah warna menjadi pink soft.
4)      Analisislah apa yang terjadi pada larutan tersebut.





























I.    KESIMPULAN
Dari hasil praktikum di atas dapat disumpulkan bahwa:    
               a.  Titrasi merupakan suatu metode untuk mencarikonsentrasi yang belum diketahui.
           b. Titik ekuivalen merupakan keadaan di mana asam dan basa tepat bereaksi dan titik akhir yaitu titik di mana terjadi perubahan warna pada titrasi sehingga titrasi harus dihentikan.

             

                                                                                                            
                                                                                                    ~ SMA NEGERI 1 BLITAR
`


`

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA : “INDIKATOR ALAMI”


A.    JUDUL KEGIATAN
Berlatih Mengamati Proses Pembuatan Indikator Alami

B.     JENIS KEGIATAN
Percobaan kelompok.

C.    TUJUAN KEGIATAN
Peserta didik dapat membuat indikator alami untuk menguji larutan asam basa.

D.    DASAR TEORI
  Asam secara umum merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton (ion H+) kepada zat lain (yang disebut basa), atau dapat menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa. Suatu asam bereaksi dengan suatu basa dalam reaksi penetralan untuk membentuk garam. Contoh asam adalah asam asetat
Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:
1.masam ketika dilarutkan dalam air.
2. asam terasa menyengat bila disentuh, dan dapat merusak kulit.
3. asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif terhadap logam.
4. walaupun tidak selalu ionik merupakan cairan elektrolit.

   Basa adalah zat-zat yang dapat menetralkan asam. Secara kimia, asam dan basa saling berlawanan. Basa yang larut dalam air disebut alkali. Jika zat asam menghasilkan ion hidrogen (H+) yang bermuatan positif, maka dalam hal ini basa mempunyai arti bahwa ketika suatu senyawa basa di larutkan ke dalam air, maka akan terbentuk ion hidroksida (OH-) dan ion positif menurut reaksi sebagai berikut. Ion hidroksida (OH-) terbentuk karena senyawa hidroksida (OH) mengikat satu elektron saat dimasukkan ke dalam air.      
Secara umum, basa memiliki sifat sebagai berikut:
1. Kaustik
2. Rasanya pahit
3. Licin seperti sabun
4. Nilai pH lebih dari air suling
5. Mengubah warna lakmus merah menjadi biru
6. Dapat menghantarkan arus listrik

    Setiap zat atau senyawa mempunyai sifat asam ,basa atau netral. Kita dapat menentukan apakah zat atau senyawa itu asam, basa atau netral dengan menggunakan indikator. Indikator ini dapat berupa indikator universal atau lakmus biru – lakmus merah yang dibuat di laboratorium, atau juga dapat menggunakan indikator asam-basa dengan bahan yang di dapat dari alam seperti tumbuhan.
  Indikator alami yaitu indikator yang berasal dari bahan-bahan alami, dimana cara memperolehnya yaitu dengan cara mengekstrak. Prinsip indikator adalah bahan yang memberikan warna berbeda pada zat yang bersifat asam dan basa. Indikator alami yang biasa dipakai dalam pengujian asam basa adalah tumbuhan yang berwarna mencolok, berupa bunga-bungaan,umbi-umbian, kulit buah dan dedaunan.

A.    ALAT DAN BAHAN
ALAT
BAHAN
1.      Sendok
2.      Penumbuk  
3.      Gelas plastik bening
4.      Plastik

1.      Bunga warna-warni :
             a.     Bunga mawar merah
             b.     Bunga sepatu
             c.     Bunga anggrek
2.      Cuka
3.      Jeruk nipis
4.      Kapur atau gampinh
5.      Sabun
6.      Garam
7.      Air


B.     LANGKAH KEGIATAN
1)      Menggerus beberepa helai mohkota bunga sampai halus dengan menggunakan lumpang dan alu. Untuk memudahkan penggerusan, tambahkan air suling 6 mL.
2)      Menuangkan 1 mL ekstrak ke dalam dua buah tabung reaksi yang kering dan bersih.
3)      Pada tabung reaksi yang pertama ditambahkan cuka, sedangkan pada tabung reaksi yang kedua ditambahkan amonia.
4)     Goyangkan tabung dengan perlahan dan amatilah perubahan warna yang terjadi,kemudian catatlah hasilnya.
5)     Dengan menggunakan ekstrak di atas, kami uji asam dan basa dari air jeruk, air kapur, air garam, larutan HCl, dan larutan NaOH.
6)     Menuangkan ekstrak mahkota bunga tersebut dalam limas buah tabung reaksi yang kering daan bersih.
7)     Dalam tabung yang pertama ditambhakan air jeruk, tabung kedua ditambahkan air kapur, tabung ketiga ditambahkan air garam, tabung ke empat ditambahkan HCl, dan tabung ke lima ditambahkan amonia.
8)     Mengamati dan mencatat perubahan warna yang terjadi.
9)     Mengulangi langkah kerja diatas untuk ekstrak bunga yang lain.

C.    DATA PENGAMATAN

1)      Pengujian ekstrak mahkota bunga
Pengujian Ekstrak Mahkota Bunga
Mawar
Sepatu
Anggrek
Warna bunga
Merah
Merah Muda
Ungu
Warna ekstrak + air suling
Merah Muda Kecoklatan
Bening Kemerahan
Ungu Kecoklatan
Warna ekstrak + cuka
Merah Muda
Merah
Merah Muda

2)      Pengujian pada bahan
Bahan yang Diuji
Mawar
Sepatu
Anggrek
Sifat Larutan yang Diuji
Air jeruk
Merah
Merah
Merah Muda
Asam
Air kapur
Hijau
Kuning Kehijauan
Hijau
Basa
Air garam
Merah Muda (Tetap)
Merah (Tetap)
Merah Muda (Tetap)
Netral
Air Cuka
Merah Muda
Merah
Merah Muda
Asam
Air Sabun
Hijau
Kuning
Hijau
Basa

D.    ANALISIS

      ·         Ekstrak mahkota bunga manakah yang paling baik digunakan sebagai indikator asam basa?
Setiap larutan, memiliki kandungan zat yang berbeda beda. Untuk mengetahui kandungan zat yang ada dalam tiap larutan, dapat digunakan indikator alami untuk mengujinya. Dari percobaan yang dilakukan , air jeruk, air cuka, air garam, air sabun, dan air kapur diuji kandngan asam basanya dengan indikator alami berupa ekstrak dari berbagai macam bunga berwarna seperti mawar, bunga sepatu, anggrek. Saat air jeruk diuji dengan ekstrak bunga mawar, ekstrak bunga mawar tetap berwarna merah, ekstrak bunga sepatu berubah warna dari merah muda ke merah saat dicampur larutan air jeruk, dan ekstrak anggrek berubah warna dari ungu menjadi merah muda. Hal ini menunjukkan bahwa air jeruk memiliki kandungan asam
Pada pengujian air cuka, ekstrak bunga mawar berubah menjadi merah muda,ekstrak bunga sepatu berubah menjadi merah, dan ekstrak anggrek berubah menjadi Merah muda. Hal ini membuktikan bahwa air cuka mengandung asam. Saat air garam diuji degan ekstrak bunga, ekstrak bunga tidak mengalami perubahan warna apapun, baik bunga mawar, bunga sepatu, dan anggrek. Hal ini menunjukkan bahwa air garam bersifat netral. Air sabun yang diuji pada ekstrak bunga, mengubah warna ekstrak mawar menjadi hijau,ekstrak bunga sepatu menjadi kuning, dan warna anggrek tetap. Air sabun terbukti memiliki kandungan basa. Saat air kapur diuji, warna ekstrak mawar berubah menjadi hijau, Ekstrak bunga sepatu mengalami perubahan warna menjadi kuning kehijauan, Namun warna anggrek tidak berubah, hal ini berarti air kapur merupakan larutan yang mengandung basa.

E.     KESIMPULAN

    Untuk dapat mengetahui kandungan asam basa suatu larutan, dilakukan pengujian terhadap larutan tersebut. Pengujian dapat dilakukan dengan indicator alami mupun indicator buatan. Air jeruk dan air cuka mengandung asam karena dapat mengubah warna ekstrak bunga, kunyit, maupun daun pacar air menjadi lebih terang. Sedangkan air sabun dan air kapur barus mengandung basa karena dapat mengubah warna ekstrak bunga. Air garam tidak mengubah warna ekstrak daun yang asli, sehingga air garam bersifat netral.

F.    LAMPIRAN

Pengujian Pada Ekstrak Mahkota Bunga
Ekstrak Mahkota Bunga
Larutan
Warna yang Dihasilkan
Gambar
Mawar Merah
Ekstrak + Air Suling
Merah Muda Kecoklatan
Ekstrak + Air Jeruk
Merah
Ekstrak + Air Sabun
Hijau Keunguan
Ekstrak + Air Kapur
Hijau
Ekstrak + Air Cuka
Merah Muda
Bunga Sepatu
Ekstrak Bunga Sepatu + Jeruk
Merah
Ekstrak Bunga Sepatu + Cuka
Merah Muda
Ekstrak Bunga Sepatu + Sabun
Kuning
Ekstrak Bunga Sepatu + Kapur
Kuning Kehijauan
Bunga Anggrek
Ekstrak Bunga Anggrek + Air Jeruk
Merah Muda
Ekstrak Bunga Anggrek + Air Cuka
Merah Muda
Ekstrak Bunga Anggrek + Air Sabun
Hijau
Ekstrak Bunga Anggrek + Air Kapur
Hijau



                                                            
                                                                                                              ~ SMA NEGERI 1 BLITAR