Tuesday, July 3, 2018

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA : “INDIKATOR ALAMI”


A.    JUDUL KEGIATAN
Berlatih Mengamati Proses Pembuatan Indikator Alami

B.     JENIS KEGIATAN
Percobaan kelompok.

C.    TUJUAN KEGIATAN
Peserta didik dapat membuat indikator alami untuk menguji larutan asam basa.

D.    DASAR TEORI
  Asam secara umum merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton (ion H+) kepada zat lain (yang disebut basa), atau dapat menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa. Suatu asam bereaksi dengan suatu basa dalam reaksi penetralan untuk membentuk garam. Contoh asam adalah asam asetat
Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:
1.masam ketika dilarutkan dalam air.
2. asam terasa menyengat bila disentuh, dan dapat merusak kulit.
3. asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif terhadap logam.
4. walaupun tidak selalu ionik merupakan cairan elektrolit.

   Basa adalah zat-zat yang dapat menetralkan asam. Secara kimia, asam dan basa saling berlawanan. Basa yang larut dalam air disebut alkali. Jika zat asam menghasilkan ion hidrogen (H+) yang bermuatan positif, maka dalam hal ini basa mempunyai arti bahwa ketika suatu senyawa basa di larutkan ke dalam air, maka akan terbentuk ion hidroksida (OH-) dan ion positif menurut reaksi sebagai berikut. Ion hidroksida (OH-) terbentuk karena senyawa hidroksida (OH) mengikat satu elektron saat dimasukkan ke dalam air.      
Secara umum, basa memiliki sifat sebagai berikut:
1. Kaustik
2. Rasanya pahit
3. Licin seperti sabun
4. Nilai pH lebih dari air suling
5. Mengubah warna lakmus merah menjadi biru
6. Dapat menghantarkan arus listrik

    Setiap zat atau senyawa mempunyai sifat asam ,basa atau netral. Kita dapat menentukan apakah zat atau senyawa itu asam, basa atau netral dengan menggunakan indikator. Indikator ini dapat berupa indikator universal atau lakmus biru – lakmus merah yang dibuat di laboratorium, atau juga dapat menggunakan indikator asam-basa dengan bahan yang di dapat dari alam seperti tumbuhan.
  Indikator alami yaitu indikator yang berasal dari bahan-bahan alami, dimana cara memperolehnya yaitu dengan cara mengekstrak. Prinsip indikator adalah bahan yang memberikan warna berbeda pada zat yang bersifat asam dan basa. Indikator alami yang biasa dipakai dalam pengujian asam basa adalah tumbuhan yang berwarna mencolok, berupa bunga-bungaan,umbi-umbian, kulit buah dan dedaunan.

A.    ALAT DAN BAHAN
ALAT
BAHAN
1.      Sendok
2.      Penumbuk  
3.      Gelas plastik bening
4.      Plastik

1.      Bunga warna-warni :
             a.     Bunga mawar merah
             b.     Bunga sepatu
             c.     Bunga anggrek
2.      Cuka
3.      Jeruk nipis
4.      Kapur atau gampinh
5.      Sabun
6.      Garam
7.      Air


B.     LANGKAH KEGIATAN
1)      Menggerus beberepa helai mohkota bunga sampai halus dengan menggunakan lumpang dan alu. Untuk memudahkan penggerusan, tambahkan air suling 6 mL.
2)      Menuangkan 1 mL ekstrak ke dalam dua buah tabung reaksi yang kering dan bersih.
3)      Pada tabung reaksi yang pertama ditambahkan cuka, sedangkan pada tabung reaksi yang kedua ditambahkan amonia.
4)     Goyangkan tabung dengan perlahan dan amatilah perubahan warna yang terjadi,kemudian catatlah hasilnya.
5)     Dengan menggunakan ekstrak di atas, kami uji asam dan basa dari air jeruk, air kapur, air garam, larutan HCl, dan larutan NaOH.
6)     Menuangkan ekstrak mahkota bunga tersebut dalam limas buah tabung reaksi yang kering daan bersih.
7)     Dalam tabung yang pertama ditambhakan air jeruk, tabung kedua ditambahkan air kapur, tabung ketiga ditambahkan air garam, tabung ke empat ditambahkan HCl, dan tabung ke lima ditambahkan amonia.
8)     Mengamati dan mencatat perubahan warna yang terjadi.
9)     Mengulangi langkah kerja diatas untuk ekstrak bunga yang lain.

C.    DATA PENGAMATAN

1)      Pengujian ekstrak mahkota bunga
Pengujian Ekstrak Mahkota Bunga
Mawar
Sepatu
Anggrek
Warna bunga
Merah
Merah Muda
Ungu
Warna ekstrak + air suling
Merah Muda Kecoklatan
Bening Kemerahan
Ungu Kecoklatan
Warna ekstrak + cuka
Merah Muda
Merah
Merah Muda

2)      Pengujian pada bahan
Bahan yang Diuji
Mawar
Sepatu
Anggrek
Sifat Larutan yang Diuji
Air jeruk
Merah
Merah
Merah Muda
Asam
Air kapur
Hijau
Kuning Kehijauan
Hijau
Basa
Air garam
Merah Muda (Tetap)
Merah (Tetap)
Merah Muda (Tetap)
Netral
Air Cuka
Merah Muda
Merah
Merah Muda
Asam
Air Sabun
Hijau
Kuning
Hijau
Basa

D.    ANALISIS

      ·         Ekstrak mahkota bunga manakah yang paling baik digunakan sebagai indikator asam basa?
Setiap larutan, memiliki kandungan zat yang berbeda beda. Untuk mengetahui kandungan zat yang ada dalam tiap larutan, dapat digunakan indikator alami untuk mengujinya. Dari percobaan yang dilakukan , air jeruk, air cuka, air garam, air sabun, dan air kapur diuji kandngan asam basanya dengan indikator alami berupa ekstrak dari berbagai macam bunga berwarna seperti mawar, bunga sepatu, anggrek. Saat air jeruk diuji dengan ekstrak bunga mawar, ekstrak bunga mawar tetap berwarna merah, ekstrak bunga sepatu berubah warna dari merah muda ke merah saat dicampur larutan air jeruk, dan ekstrak anggrek berubah warna dari ungu menjadi merah muda. Hal ini menunjukkan bahwa air jeruk memiliki kandungan asam
Pada pengujian air cuka, ekstrak bunga mawar berubah menjadi merah muda,ekstrak bunga sepatu berubah menjadi merah, dan ekstrak anggrek berubah menjadi Merah muda. Hal ini membuktikan bahwa air cuka mengandung asam. Saat air garam diuji degan ekstrak bunga, ekstrak bunga tidak mengalami perubahan warna apapun, baik bunga mawar, bunga sepatu, dan anggrek. Hal ini menunjukkan bahwa air garam bersifat netral. Air sabun yang diuji pada ekstrak bunga, mengubah warna ekstrak mawar menjadi hijau,ekstrak bunga sepatu menjadi kuning, dan warna anggrek tetap. Air sabun terbukti memiliki kandungan basa. Saat air kapur diuji, warna ekstrak mawar berubah menjadi hijau, Ekstrak bunga sepatu mengalami perubahan warna menjadi kuning kehijauan, Namun warna anggrek tidak berubah, hal ini berarti air kapur merupakan larutan yang mengandung basa.

E.     KESIMPULAN

    Untuk dapat mengetahui kandungan asam basa suatu larutan, dilakukan pengujian terhadap larutan tersebut. Pengujian dapat dilakukan dengan indicator alami mupun indicator buatan. Air jeruk dan air cuka mengandung asam karena dapat mengubah warna ekstrak bunga, kunyit, maupun daun pacar air menjadi lebih terang. Sedangkan air sabun dan air kapur barus mengandung basa karena dapat mengubah warna ekstrak bunga. Air garam tidak mengubah warna ekstrak daun yang asli, sehingga air garam bersifat netral.

F.    LAMPIRAN

Pengujian Pada Ekstrak Mahkota Bunga
Ekstrak Mahkota Bunga
Larutan
Warna yang Dihasilkan
Gambar
Mawar Merah
Ekstrak + Air Suling
Merah Muda Kecoklatan
Ekstrak + Air Jeruk
Merah
Ekstrak + Air Sabun
Hijau Keunguan
Ekstrak + Air Kapur
Hijau
Ekstrak + Air Cuka
Merah Muda
Bunga Sepatu
Ekstrak Bunga Sepatu + Jeruk
Merah
Ekstrak Bunga Sepatu + Cuka
Merah Muda
Ekstrak Bunga Sepatu + Sabun
Kuning
Ekstrak Bunga Sepatu + Kapur
Kuning Kehijauan
Bunga Anggrek
Ekstrak Bunga Anggrek + Air Jeruk
Merah Muda
Ekstrak Bunga Anggrek + Air Cuka
Merah Muda
Ekstrak Bunga Anggrek + Air Sabun
Hijau
Ekstrak Bunga Anggrek + Air Kapur
Hijau



                                                            
                                                                                                              ~ SMA NEGERI 1 BLITAR

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA : “LAJU REAKSI”


A.    JUDUL PRAKTIKUM
      Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.

B.     TUJUAN PRAKTIKUM
      Dapat menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.

C.    DASAR TEORI
 Dalam reaksi kimia terdapat perbedaan laju reaksi antara reaksi yang satu dengan reaksi yang lain. Misalnya ketika kita membakar kertas, reaksi berlangsung begitu cepat sedangkan reaksi pembentukan minyak bumi memerlukan waktu yang sangat lama. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa reaksi kimia memiliki laju reaksi yang berbeda.
Dalam ilmu kimia laju reaksi kimia dipelajari dalam kinetika kimia. Kinetika kimia adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari tentang laju reaksi kimia. Cepat lambatnya suatu reaksi kimia yang berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau produk per satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fase gas, satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan seperti atmosfer, millimeter merkurium, atau pascal. Satuan waktu yang digunakan dapat berupa detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun bergantung pada reaksi tersebut berjalan cepat atau lambat.
Untuk mengukur laju reaksi, perlu dilakukan analisis secara langsung maupun tak langsung tak langsung banyaknya, produk yang terbentuk atau banyaknya reaksi yang tersisa setelah penggal waktu tertentu.
Contoh :
Laju reaksi kimia dapat dinyatakan sebagai laju penguraian konsentrasi molar NO2 atau Laju pertambahan konsentrasi molar N2 dan O2. 
Sesuai dengan perbandingan koefisien reaksinya, laju pembentukan O2 adalah setengah dari laju pengurangan NO2, yaitu :
Ada beberapa cara menentukan laju reaksi, salah satunya itu ditentukan melalui percobaan, yaitu dengan mengukur konsentrasi salah satu reaksi salah satu produk pada selang waktu yang berlangsung lambat ini dapat ditentukan dengan cara mengeluarkan sampel dari campuran reaksi lalu menganalisanya dengan contoh sebagai berikut :


Reaksi tersebut sangat lambat berlangsungnya sehingga konsentrasi asam asetat yang dihasilkan dengan mudah dapat ditentukan dengan menggunakan suau larutan asam basa. Cara yang lebih umum adalah dengan menggunakan suatu alat yang dapat menunjukkan secara kontinu suatu perubahan yang menyertai reaksi. Untuk reaksi gas yang disertai perubahan mol, alat dirancang dapat mengukur perubahan bahan tekanan gas, contohnya sebagai berikut :
Reaksi tersebut disertai pertambahan jumlah mol gas yang menyebabkan pertambahan tekanan yang dapat dibaca dengan mometer semakin banyak N2O5 yang terurai semakin besar tekanannya, jika reaksi berlangsung pada volume dan suhu yang tetap maka pertambahan tekanan dapat dikatakan dengan tambahan mol dengan demikian laju penguraian NaOdapat ditentukan.

D.    ALAT DAN BAHAN

1.   ALAT
                 2.   BAHAN 
E.    CARA KERJA


     F.    DATA PENGAMATAN












G.    KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang            mempengaruhi laju rekasi yaitu:
1.  Konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi, maka laju rekasi semakin cepat. Semakin rendah konsentrasi, maka laju reaksi semakin lambat.
2. Tekanan. Penambahan tekanan dengan memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi
3.    Suhu. Peningkatan suhu akan mempercepat laju reaksi.
4.    Luas bidang sentuh. Semakin luas bidang sentuh maka laju reaksi semakin cepat
5.    Katalis. Katalis yang ditambahkan akan mempercepat laju reaksi.



                                                                                                         ~ SMA NEGERI 1 BLITAR

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA : “PEMBUATAN KOLOID”


Pembuatan Koloid

Sistem koloid dapat dibuat dengan pengelompokan (agregasi) partikel larutan sejati atau menghaluskan bahan dalam bentuk kasar, kemudian diaduk dengan medium pendispersi.
Cara yang pertama disebut cara kondensasi, sedangkan yang kedua disebut cara dispersi.
A. Cara Kondensasi
·         Dengan cara kondensasi, partikel larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjadi partikel koloid.
·         Cara ini dapat dilakukan dengan reaksi-reaksi kimia, seperti reaksi redoks, hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau dengan pergantian pelarut.
1.      Reaksi Redoks
·         Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.
Contoh 1:

Pembuatan sol belerang dari reaksi antara hydrogen sulfida (H2S) dengan belerang dioksida (SO2), yaitu dengan mengalirkan gas H2S kedalam larutan SO2.

H2S(g) + SO2(aq) ⎯⎯→ 2 H2O(l) + 3 S (koloid)
Contoh 2:

Pembuatan sol emas dari reaksi antara larutan HAuCl4 dengan larutan K2CO3 dan HCHO (formaldehida).

2 HAuCl4(aq)+6 K2CO3(aq) + 3 HCHO(aq) ⎯⎯→ 2 Au(koloid) + 5 CO2(g) + 8 KCl(aq) + KHCO3(aq) + 2 H2O(l)
2. Hidrolisis
·         Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
Contoh:
Pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3. Apabila kedalam air mendidih ditambahkan larutan FeCl3, maka akan terbentuk sol Fe(OH)3.

FeCl3(aq)+ 3 H2O(l) ⎯⎯→ Fe(OH)3 (koloid) + 3 HCl(aq)

3. Dekomposisi Rangkap

Contoh 1:

Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutan H2S.
2 H3AsO3(aq) + 3 H2S(aq) ⎯⎯→ As2S3(koloid) + 6 H2O(l)

Contoh 2:

Sol AgCl dapat dibuat dengan mencampurkan larutan perak nitrat encer dengan larutan HCl encer.

AgNO3(aq) + HCl(aq) ⎯⎯→ AgCl(koloid) + HNO3(aq)
4. Penggantian Pelarut

Selain dengan cara-cara kimia seperti di atas, koloid juga dapat terjadi dengan penggantian pelarut.

Contoh:
Apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol, maka akan terbentuk suatu koloid berupa gel.

B. Cara Dispersi
·         Dengan cara dispersi, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid.
·         Cara disperse dapatdilakukan secara mekanik, peptisasi, atau dengan loncatan bunga listrik (cara busur Bredig).
1. Cara Mekanik
·         Menurut cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumping atau penggiling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu,  kemudian diaduk dengan medium dispersi.
Contoh:
·         Sol belerang dapat dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-sama dengan suatu zat inert (seperti gula pasir),
·         Kemudian mencampur serbuk halus itu dengan air.
2. Cara Peptisasi
·         Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah).
·         Zat pemeptisasi memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid.
·         Istilah peptisasi dikaitkan dengan peptonisasi, yaitu proses pemecahan protein (polipeptida) yang dikatalisis oleh enzim pepsin.
Contoh:
·         Agar-agar dipeptisasi oleh air
·         Nitroselulosa oleh aseton
·         Karet oleh bensin
·         Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S
·         Endapan Al(OH)3 oleh AlCl3.
3. Cara BusurBredig
·         Cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam.
·         Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujungnya.
·         Mula-mula atom-atom logam akan terlempar kedalam air, lalu atom-atom tersebut mengalami kondensasi, sehingga membentuk partikel koloid.
·         Jadi, cara busur ini merupakan gabungan cara dispersi dan cara kondensasi.


                                                                                                           ~ SMA NEGERI 1 BLITAR